Dr Handrawan Nadesul

Melayani sesama melalui stateskop dan mouse kompie

Wednesday, January 25, 2006

Apresiasi untuk Pergi Berjalan Jauh

Bahasanya jernih, pengucapan puitiknya sederhana, makin lama makin matang, dan selalu mengharukan... Kelemahlembutan dan kebersajahaan mononjol pada pribadinya, dan itu terbayang pada puisi-puisinya.
Taufiq Ismail, penyair

Saya terutama tersentuh oleh nafas religiusitas dalam sajak-sajak Bung Hans.... Bagi saya, Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh mempunyai desah madah yang bening tentang hidup.
Alfons Taryadi, mantan redaksi Kompas

Puisi-puisi Handrawan Nadesul adalah puisi-puisi “meditatif”, yang lewat angan-angan dan keyakinan bawah sadarnya menghantar Hans seperti keadaannya sekarang ini.
Oei Sien Tjwan, penyair

Kekuatan puisinya pada sentuhan imajinasi masa lalu. Kupu-kupu masa kecilnya, angin ladang, capung-capung telaga.... Handrawan berhasil meracik kata untuk resep penyejuk dan pengkayaan batin pembaca puisinya.
Hamsad Rangkuti, cerpenis

Kesederhanaan dan kesahajaan, baik dalam tema maupun gaya ungkap bahasa dan metafora—dan karena itu kejujurannya begitu terasa—adalah kekuatan sajak-sajak Handrawan dalam kumpulan ini.
Yudhistira ANM Massardi, novelis, penyair, Pemred Gatra
Handrawan adalah seorang penyair yang lembut, melankoli, dan teraniaya oleh kerinduan pribadiannya pada segala sesuatu yang dicintainya.
Eka Budianta, penyair
Saat kubaca ulang ketigapuluhdelapan puisinya itu, sambil menunggu kedatangan pasienku di RS Omni, tak kuasa kubendung tetes-tetes airmataku.
Felix Aryadi Joelimar, dosen FKG-UI
Ia adalah seorang humanis... Inilah bekal klasik seorang seniman, seorang pengarang, dan seorang penyair khususnya... Betapa lekat jatidiri itu, tidak hanya pada pilihan tema... tapi juga pada gaya, diksi, dan ide yang meluncur.
Radhar Panca Dahana, penyair, pekerja teater, kolumnis

Membaca Handrawan Nadesul, di tengah kabar yang tak kunjung tuntas kini, rasanya seperti membaca hati nurani, menyimak kalbu yang seolah begitu lama tak jumpa, membuka sunyi, dan menatap banyak hal.
Noorca M. Massardi, dramawan
Puisi-puisi Anda bagiku seperti denting gitar yang melodius, namun sulit dicari chord-nya pada bagian coda. Menurutku, ini dikarenakan adanya pendaran imaji pada setiap akhir larik puisi.
Dharnoto, Penyair, Dramawan
Hans konsisten dengan pandangan hidupnya, tentang betapa pentingnya kasih sayang dan ini dapat dibaca dalam puisi-puisinya, sejak dulu sampai sekarang.
Dharmadi, Penyair
Hans yang romantis, yang selalu optimis. Itu yang selalu menjadi kekangenan saya dari Handrawan Nadesul lewat sajak-sajaknya sejak pertama kali berkenalan dengan penyair ini di penghujung tahun 1972, 33 tahun silam.
Prijono Tjiptoherijanto, Guru Besar FEUI, Penyair
Karya Hans saya ikuti sejak awal kepenyairannya. Menyimak karyanya, penyair ini punya pengucapan jelas. Maksud saya, Hans berupaya mencari nilai puitik, ritme yang senantiasa terjaga, serta santun. Melalui karyanya, saya merasakan adanya protes sosial yang diucapkan lirih.
Adri Darmadji Woko, Penyair dan wartawan
Saya sangat menikmati puisi-puisi dalam buku ini. Membuat saya menemukan pojok teduh di rimba kehidupan—tempat utama kekuatan hidup dihimpun.
Ang Tek Khun, Penyair, psikolog

2 Comments:

Post a Comment

<< Home